Syaikh Ibnu jibrin dan Pasar Malam

Sebuah kisah yang menarik dari ulama’ masa kini, yang mencontohkan pada kita bagaimana cara berdakwah yang benar itu.. Kisah ini diceritakan oleh salah seorang murid ulama’ ini. Saksikanlah kisahnya..

“Ketika aku muda, aku sering menghabiskan waktu pada 10 hari terakhir bulan ramadhan di Mekkah. Tempat favorit aku adalah di area di antara rukun yamani dan hijr, dan di sanalah aku banyak menghabiskan waktu ketika berada di Al-Haram (masjidil Haram).

Suatu saat, aku tidak lagi memilih di tempat favorit aku karena aku mendengar bahwa guru aku, syaikh Ibnu Jibrin, datang ke Al-Haraam dan berada di lantai ketiga. Maka aku pun ingin untuk shalat dengan beliau, dan ingin rasanya jika ada kesempatan untuk bertanya tentang masalah-masalah agama dan mendengar jawaban dari beliau. Bahkan sekedar melihat pun sudah merupakan keuntungan yang besar bagi seseorang yang memang ingin belajar. Dengan melihat beliau, kita bisa mendapat faedah tentang bagaimana tingkah laku beliau, bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, dan sebagainya.

Suatu malam sekelompok orang mendatangi syaikh setelah isya’ dan sebelum tarawih. Mereka bertanya, mana  yang lebih baik, shalat jama’ah tarawih bersama orang-orang atau datang ke mall lalu berdakwah di sana. Karena, ketika waktu tarawih, banyak wanita dan laki-laki yang berjalan-jalan di pasar malam lalu melakukan hal-hal yang sangat tidak pantas jika dilakukan di waktu-waktu yang penuh berkah, yaitu waktu malam bulan ramadhan. Lantas syaikh pun menunda jawabannya dan berjanji akan menjawab pertanyaan mereka pada keesokan harinya di waktu yang sama dan tempat yang sama..

24 jam aku menunggu jawaban dari syaikh, dan 24 jam itu sungguh terasa lama, karena aku sungguh penasaran akan jawaban syaikh. Aku memikirkan beberapa jawaban yang mungkin dari syaikh, tapi apa yang terjadi keesokan harinya sungguh di luar dugaan aku.

Saat tepat di tempat dan waktu yang sama pada keesokan harinya, saat orang-orang yang bertanya itu datang, syaikh berkata,’bismillah, ayo pergi!’

Mereka bertanya, ’ke mana wahai syaikh?’

Syaikh menjawab sambil tersenyum lebar, ‘kita pergi ke pasar bersama-sama’. Itulah jawaban dari syaikh! Berdakwah serta memberikan nasihat pada manusia dengan ikhlas lebih dicintai oleh Allah daripada shalat tarawih berjamaah di masjidil haram.

Aku pun ikut bersama mereka. Mereka pun senang akan kehadiran syaikh bersama mereka. Di pintu masuk pasar malam itu, syaikh mendapati seorang penjual kaset-kaset music. Lalu syaikh pun mengajak sang penjual itu untuk keluar sebentar.

Di luar, syaikh mengajak penjual kaset itu bicara 4 mata. Lalu syaikh mengingatkan tentang larangan musik dan dampak-dampak buruk dari adanya hal itu. Aku pun mendekat agar bisa mendengar apa yang diucapkannya pada orang itu. Di antara perkataan yang disebutkan oleh syaikh adalah cerita tentang ibnu Abbas yang tidak tinggal di Mekkah karena dia takut dosanya akan dilipatgandakan sebagaimana juga pahala di sana akan dilipatgandakan, sebab kesucian kota Mekkah.

Syaikh pun berkata pada penjual itu dengan nada lembut sekaligus menunjukkan kekhawatiran,”tokomu hanya berjarak 50 meter dari Haraam, apakah engkau siap bertemu Allah dengan keadaanmu yang seperti ini?

Setelah 10 menit, aku mendengar teriakan dari penjual itu kepada semua orang di sekitar itu, yang teriakan itu bercampur dengan tangis. Dia berkata, “Allah sebagai saksiku, serta Malaikatnya dan kalian semua, sungguh aku berjanji, sebelum fajar datang aku akan menyingkirkan seluruh kaset-kaset ini. Sejak saat ini, aku akan bekerja dengan yang halal dan aku akan menjual kaset-kaset Qur’an serta rekaman-rekaman kajian islam..”

Kisah itu menjadi berita keesokan harinya. Itu adalah malam yang sungguh indah dan aku sungguh mendapat banyak pelajaran hidup yang aku ingin praktekkan hingga saat ini.”

Semoga kita juga mendapat pelajaran dari beliau rahimahullahu.

Ditranslate dari : http://www.saudilife.net/life-and-society/84-personalities/36701-giant-of-the-past-ibn-jibreen-s-street-da-wah-in-makkah

Advertisements