Einstein Kekal di Neraka?

e-mc2

Bismillah. Segala puji bagi Allah yang Maha tinggi dan mulia SifatNya. Dialah Rabb semesta alam, yang kekuasannya paling sempurna. Dialah raja yang tidak ada raja lagi di atasNya. Dan dialah satu-satunya ilah yang berhak disembah, dan tidak ada illah lain selainNya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan atas Rasulullah-Muhammad bin Abdullah bin Abdullah Muthallib bin Hasyim- Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beserta para sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikutinya dengan baik.

Alkisah, seorang –sebut saja fulan- sedang menunggu adik-adik mentornya. Dia sebenarnya bukan mentor, hanya saja sedang menggantikan mentor yang berhalangan hadir. Ketika mempersiapkan materi, fulan ingin “menukil” kata-kata seorang ilmuwan dunia yang terkenal, yaitu Albert Einstein. Namun, setelah itu, terbayang oleh si fulan ini bahwa si Albert ini adalah orang kafir. Lantas, apakah boleh si fulan ini mengatakan si Albert ini kekal di neraka?

Sebagian berkata, “Ya jelas kekal di neraka, kan dia kafir. Dan cukup jelas dalilnya yang menunjukkan bahwa orang kafir ini kekal di neraka.”

Namun si fulan ini masih bingung. Bukankah bisa saja orang yang nampak kekafirannya, kemudian di akhir hayatnya dia kemudian berubah hatinya lalu menjadi Islam? Bagaimana sebenarnya hukum memastikan seseorang berada di neraka? Continue reading

Dari Mana Kau Ambil Ilmumu?

ImageDi sela-sela kesibukan (atau ke-sok-sibukan) Alhamdulillah saya sempat mengupdate blog ini.

Ini tulisan singkat dan hanya berisi copas saja. Semoga bisa diambil manfaatnya oleh para pembaca

Rasanya pembaca telah mengetahui apa itu Shahih Muslim bukan? Ya itu adalah kitab tershahih ketiga setelah Al Qur’an dan Shahih Bukhari. Nah, dalam shahih Muslim, di Muqaddimahnya, beliau mencantumkan sebuah perkataan seorang ulama’ bernama Ibnu Sirin yang berbunyi

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya Ilmu ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil Agamamu!”

Dari perkataan ini, Ibnu Sirin menyuruh kita untuk memperhatikan dari mana kita mengambil ILMU AGAMA kita. Maksudnya, jangan sembarangan mengambil ilmu dari sembarang orang. Meskipun orang ini bagus penyampaiannya, kemudian menarik tutur katanya, namun jika aqidahnya rusak, suka menukil dari hadits-hadits dhoif tanpa menjelaskannya, maka kita perlu waspada jika kita mengambil ilmu darinya, Bisa-bisa kita akan mendapat ilmu yang salah dan malah menjerumuskan kita.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah bersabda

إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaaghir” (Shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak, Ath-Thabrani, dll, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Apa yang dimaksud Ashaaghir?

Secara lafadz bahasanya, ashaaghir artinya orang-orang yang kecil. Maksudnya di sini tentu kecil Ilmunya. Dan rupanya hal ini sampai menjadi tanda-tanda kiamat. Tentu artinya perkara ini bukan perkara kecil bukan??

Maka marilah mulai sekarang kita evaluasi diri kita. Tentunya fitrah manusia adalah suka dengan sesuatu yang menarik, menyenangkan, dan sebagainya. Dan tentunya penulis pun merasakan hal ini. Dan kadang ada seorang yang menyampaikan ilmu dengan penyampaian yang sangat-sangat bagus, hanya saja ilmunya kurang. Dan ada yang sebaliknya, ilmunya sangat tinggi, akan tetapi penyampaiannya membuat ngantuk. Maka, jika ada 2 hal yang seperti ini, kita harus mengutamakan yang ilmunya tinggi, meskipun itu membosankan bagi kita. Dan apabila ada yang bisa memadukan keduanya, maka itu akan lebih baik lagi.

Dan dalam buku yang berjudul “Panduan menuntut Ilmu” yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, beliau juga menasihatkan pada para penuntut ilmu, jika di kalangan mereka ada seorang syaikh yang telah mapan ilmunya, maka ambillah ilmu darinya dan jangan mengambil ilmu dari mereka yang masih sama-sama thaalibul ‘ilmi meskipun ilmunya bagi kita juga sudah luar biasa.

Dan terakhir, nasihat buat saya sendiri terutama dan pembaca -terutama para aktivis dakwah-, apabila kita datang di kajian lalu pematerinya membosankan, atau kita bosan dengan materinya, maka ingatlah kisah tentang para ulama’ dalam menuntut ilmu pada zaman dahulu. Di zaman Imam Ahmad, ada salah seorang gurunya yang apabila membuka majelis, maka hadirin harus langsung diam, bahkan bergerak-gerak yang menimbulkan suara pun akan membuatnya marah. Padahal, yang disampaikan mungkin lebih membosankan dari apa yang membuat kita bosan pada zaman ini. Yang disampaikan hanya hadits-hadits, kadang tanpa penjelasan sama sekali, dan tentunya dibacakan sanadnya sekalian, kemudian, selesai! Sedangkan di zaman kita, kadang ustadz-ustadz masih menjelaskan sedikit-sedikit, lalu memberikan faidah, dan lainnya.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Dan marilah kita semangat mengambil ilmu dari orang-orang yang berilmu!

Ukhuwah

Ukhuwwah..

Sebuah kata yang bermaknakan indah..

Ikatan persaudaraan yang kuat..

Yang difirmankan oleh Allah Subhanallahu ta’ala dalam Ali Imron ayat 103

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..”

Maka sesungguhnya dalam ayat ini terdapat larangan untuk bercerai berai dari jalan Allah. Dan ayat ini pun semakna dengan hadits,

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715)”

Sungguh, wajib bagi seorang muslim untuk selalu menjaga ukhuwahnya di antara sesama muslim berdasarkan ayat ini. dan bahkan mencintai sesama muslim itu salah satu penyebab sempurnanya iman, seperti dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya” (H.R. Bukhari)

Namun, yang menjadi masalah sekarang, bagaimana sesungguhnya Ukhuwah itu? Karena begitu banyaknya penafsiran yang ada di masyarakat saat ini, sehingga banyak yang bingung dengan definisi ukhuwah yang sesungguhnya.

Maka di sini saya akan menukil beberapa tafsiran yang berkembang di masyarakat dan sekaligus ringkasan pembahasan mengenai tafsiran tersebut. Continue reading