Percakapan yang mengagumkan

Berikut adalah cuplikan dari rekaman acara musafir ma’al qur’an jilid 2. Program ini adalah program milik syaikh Fahd Al-Kandary, yang beliau berkeliling dunia untuk bertemu dengan para penghafal qur’an, serta bertanya tentang metode mereka dalam menghafal qur’an. Banyak hikmah yang didapat dari acara ini. Dan di jilid 2 ini, Syaikh Fahd juga mengunjungi negeri kita, Indonesia.

Dalam edisi ini, Syaikh  Fahd mengunjungi seorang anak kecil, barangkali usianya sekitar 10 tahun. Beliau bernama Jihad Al-Makkiy. Jihad Al-Makky ini adalah seorang yang buta. Dan dari beberapa percakapan mereka, saya tertarik mencuplik percakapan ini. Berikut saya cantumkan pula tulisan arab yang telah ditranskrip karena terjemahan saya masih kurang bagus.

حوار رائع جدا

شيخ فهد (ف) : لا يرضى ان نقول فقد بصر, ولكن يقول فقد نظر. صح؟

شيخ جهاد المكي(ج) : نعم

ف : لماذا؟

ج : لأن البصر اصل, وهذ في القلب. لأن الله تعلى يقول “فإنها لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ”

ف : ما شاء الله, تبارك الرحمن. شيخ, ان الله سبحانه وتعالى أخذ منك النظر. هل تشعر بالحزن؟

ج : لا, لا أشعر بالحزن. لأن الله سبحانه وتعلى أخذ مني نعمة النظر, وأعطاني نعمة البصر والبصيرة, وهذه النعمة لا بد ان يشكر الله عليه

ف : وكيف شكرت نعمة الله سبحانه وتعالى هذه؟

ج : حفظت القران ولا بد أن أعمل به

Sebuah percakapan yang mengagumkan

Syaikh Fahd (F) : Engkau tidak ridho jika aku mengatakan bahwa pandanganmu (بصر) buta, namun engkau menyuruhku mengatakan bahwa penglihatanmu (نظر) yang telah lenyap. Benar begitu?

Syaikh Jihad al makky (J) : ya benar

F : Mengapa?

J : Karena pandangan itulah asal mulanya, dan pandangan letaknya di hati (bukan di mata, -pent). Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman, “Maka sesungguhnya bukanlah  Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj : 46)

F : Maasyaa Allah.. Maha suci Ar-Rahman. Syaikh, sesungguhnya Allah telah mengambil penglihatanmu. Apakah engkau merasa sedih?

J : Tidak, aku tidak merasa sedih. Bagaimana aku bisa sedih, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta’alaa telah mengambil dariku kenikmatan penghlihatan, dan telah memberiku nikmat pandangan dan ilmu. Dan inilah nikmat yang mesti disyukuri.

F : Dan bagaimana engkau mensyukuri nikmat ini?

J : Aku telah selesai menghafalkan qur’an dan tentu akan mengamalkannya. Itulah bentuk syukurku (-pent)

Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Advertisements

Pelajaran Dakwah : Sabar

Tadi pagi, saya sempat membuat status di Facebook yang memicu perdebatan. Lantas, teman saya membuat sebuah status yang menyindir saya. Lantas saya pun merenungi lagi isi dari status itu, kenapa saya membuat status itu, dan seterusnya. Akhirnya saya sadar bahwa status saya itu salah, dan memang niat saya yang kurang baik. Intinya saya membuat status itu karena sudah jengkel setengah mati dengan orang-orang yang rsembarangan memberi cap pada sebagian orang dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut. Saya jengkel, saya marah, karena sungguh orang yang dicap ini adalah orang-orang yang justru menginginkan kebaikan untuk manusia, dan mereka pun membantah orang-orang yang keliru dengan cara yang baik. Sedangkan orang yang mencap ini, mereka suka sekali membantah dengan bumbu ejekan dan celaan yang pedas sekali. Lantas saya pun teringat akan firman Allah

يا ايها الذين امنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه اذلة على المؤمنين اعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamaNya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mana Allah mencintai kaum itu dan kaum itu pun mencintai Allah. (mereka itu) bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min dan bersikap keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut oleh celaan orang-orang yang mencela” (Q.S. Al Maidah 54)

Ya, intinya adalah sabar! Banyak sekali orang yang mencela tapi tidak tahu apa yang dicela, mereka mencela hanya karena melihat orang lain mencela. Sikap kita? Sekali lagi, sabar! Maka dari itu, syaikh Muhammad at-tamimi ketika menyebutkan tentang 4 masalah yang harus dipelajari, dalam poin ke empat beliau menyebutkan kata “Sabar”. Perhatikan kalimat beliau berikut ini

اعلم -رحمك الله – انه يجب علينا تعلم اربع مسائل
الاولى : العلم , وهو معرفة الله, ومعرفة الرسول, ومعرفة دين الاسلام بالادلة
الثاني : العمل به
الثالث : الدعوة اليه
الرابع : الصبر على الاذى فيه
“Ketahuilah! Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya wajib atas kita (manusia) untuk mempelajari 4 masalah :
1. Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Rasul, dan mengenal Diinul Islam dengan dalil
2. Beramal dengannya
3. Dakwah kepadanya
4. Bersabar pada gangguan di dalamnya.”

Keempat hal ini termaktub dalam surat Al-‘Ashr.

Itulah hikmah yang saya tangkap dari peristiwa itu. Semoga bermanfaat

Belum Terlambat!

ImageSeorang kakek entah berusia berapa, beliau terlihat masuk dan duduk mendengarkan saat acara Technical Meeting acara Dauroh Bahasa Arab di Bandung. Kakek itu sudah tidak muda lagi usianya, dan juga sudah tidak semudah kita berjalannya. Namun, beliau masih sempat-sempatnya menghadiri acara Dauroh yang membahas salah satu kitab paling dasar di dalam bahasa arab, yaitu Duruusul lughoh jilid I..

 

Setelah TM selesai, saya bersalaman dengan kakek itu dan menanyakan tentang perihal beliau yang mengikuti dauroh. Beliau menjawab -seingat saya- ,”Baru sekarang semangatnya”..

 

Perihal kakek ini sungguh menakjubkan saya, dan mengingatkan saya tentang cerita dari guru saya, Al-Ustadz Abu Khalid hafizhahullah yang pernah menceritakan kisah tentang seorang ulama’ besar madhzab Syafi’i di zamannya, padahal beliau baru saja mulai menuntut ilmu di usia 40 tahun! Alhamdulillah saya berhasil menemukan cerita versi lumayan lengkapnya. Berikut kisahnya.

Nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Ahmad bin ‘Abdullah Abu Bakr Al-Qoffaal Al-Marwaziy. Beliau seorang ulama’ di zamannya. Tulisan-tulisan serta ilmu beliau tersebar di mana-mana. Padahal beliau baru saja memulai belajar di usia 40 tahun! Pekerjaan beliau sebelum mulai mendedikasikan diri pada ilmu adalah seorang tukang kunci yang cukup terkenal.

Kisah yang menarik dari beliau adalah kisah awal-awal beliau menuntut ilmu. Beliau datang pada seorang syaikh di negerinya. Lalu Syaikh ini mendiktekan kitab dari Imam Al-Muzaniy, seorang ulama’ syafi’iyyah, kitab berjudul mukhtashor al-Muzaniy. Dan syaikh pun mendiktekan tiga kata, yaitu “هذا كتاب اختصرته” yang artinya , “Ini adalah kitab yang telah kuringkas”. Hanya tiga kata. Tiga kata yang barangkali tak sampai semenit bagi kita untuk menghafalkannya. Namun tidak seperti itu bagi beliau.

Setelah beliau pulang, beliau mulai menghafalkannya, mengeja, membaca, dan mengulang-ulang 3 kata itu, dari Isya’ hingga terbit fajar! Hanya 3 kata yang dihafalkan dari isya’ sampai subuh, karena sulitnya beliau yang sudah cukup tua untuk menghafal. Setelah itu beliau telah merasa hafal dengan baik 3 kata itu. Maka beliaupun tidur..

Setelah itu beliau bangun, dan apa yang terjadi? 3 kata yang dihafalkan dari Isya’ sampai shubuh itu telah terlupa! Itu menyebabkan dada beliau sempit, hingga beliau berkata,”Apa yang harus kukatakan pada Syaikh?”

Maka beliau keluar dari rumahnya hendak menuju ke tempat syaikh, lalu beliau ditegur seorang wanita yang berkata,”Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuatku tidak tidur semalaman gara-gara engkau terus menerus mengatakan “هذا كتاب اختصرته”! Maka gara-gara itu beliaupun ingat dan kemudian bisa menyetorkan hafalan ke gurunya. Setelah itu beliau menceritakan perihal pengalaman beliau pada gurunya, lalu gurunya menasehati beliau,

“Janganlah kejadian itu menghalangimu dari kesibukan (menghafal). Karena sungguh jika engkau terus menerus menghafal dan menyibukkan diri dengannya, nanti dia akan berubah menjadi suatu kebiasaan yang dengan itu menjadi mudah bagimu untuk menghafal.”

Maka beliau terus menerus menyibukkan diri dengan menghafal, hingga terjadilah yang terjadi. Ketika wafat, usia beliau 80 tahun. 40 tahun dalam kejahilan dan 40 tahun menjadi ulama’..

Kita tidak perlu mengulang-ulang 3 kata dari isya’ hingga shubuh. Kita sangat dimudahkan dalam menuntut ilmu. Namun apakah kita menunggu hingga usia 40 tahun untuk serius belajar agama??

 

Diselesaikan di Bandung, 21 Februari 14.05

Sumber : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=53008

Lebih Mahal dari Ferrari

Image

Bismillah.

Pernah tahu mobil di samping?

Sekedar info, itu adalah Ferrari Enzo, mobil yang harganya sangat mahal, mencapai angka belasan hingga dua puluhan miliar rupiah! (http://www.thesupercars.org/ferrari/ferrari-enzo) Tentu ini merupakan harta yang sungguh luar biasa bagi yang memilikinya, dan tentu sangat menyenangkan bukan jika bisa memiliki mobil semacam ini? Namun, di antara shahabat Nabi, ada yang pernah mendengar sebuah kalimat dari Rasulullah, dan baginya itu lebih bernilai dari ferrari Enzo! Bagaimana kisahnya? Coba perhatikan hadits berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ تَغْلِبَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِمَالٍ أَوْ سَبْيٍ فَقَسَمَهُ فَأَعْطَى رِجَالًا وَتَرَكَ رِجَالًا فَبَلَغَهُ أَنَّ الَّذِينَ تَرَكَ عَتَبُوا فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ أَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ وَأَدَعُ الرَّجُلَ وَالَّذِي أَدَعُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الَّذِي أُعْطِي وَلَكِنْ أُعْطِي أَقْوَامًا لِمَا أَرَى فِي قُلُوبِهِمْ مِنْ الْجَزَعِ وَالْهَلَعِ وَأَكِلُ أَقْوَامًا إِلَى مَا جَعَلَ اللَّهُ فِي قُلُوبِهِمْ مِنْ الْغِنَى وَالْخَيْرِ فِيهِمْ عَمْرُو بْنُ تَغْلِبَ فَوَاللَّهِ مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِكَلِمَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُمْرَ النَّعَمِ

“Telah menceritakan pada kami Muhammad bin Ma’mar, dia berkata, ‘Telah menceritakan pada kami Abu ‘Ashim, dari Jarir bin Haazim, dia (jarir) berkata,’Aku telah mendengar hasan berkata,’Telah menceritakan pada kami ‘amru bin taghlib, “Sesungguhnya Rasulullah pernah diberi harta atau tawanan, kemudian beliau membagikannya, lantas beliau memberikan sebagian orang dan meninggalkan sebagian orang. Maka orang-orang yang ditinggalkan (yang tidak diberi) mencela keputusan Rasulullah itu. Kemudian Rasulullah memuji Allah, setelah itu beliau berkata, ‘Maka demi Allah, sesungguhnya aku telah memberi sebagian dan telah meninggalkan sebagian, dan orang-orang yang kutinggalkan itu, lebih aku cintai daripada orang-orang yang kuberi. Akan tetapi aku memberi kaum yang aku melihat di hatinya masih ada kecemasan dan kekalutan. Dan aku membiarkan kaum lain kepada apa yang dijadikan Allah pada hati-hati mereka berupa kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah ‘amru bin taghlib. (kemudian berkata Amru bin taghlib) Maka demi Allah, tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali ucapan Rasulullah padaku tadi.” (H.R Bukhari no. 871)

Itulah hadits yang menerangkan tentang kisah ‘amru bin taghlib, seorang shahabat yang dipuji oleh Rasulullah, yang pujian itu lebih mahal di sisinya daripada unta merah. Dan unta merah ketika itu adalah kendaraan yang sangat bagus dan sangat dicintai oleh orang-orang arab, yang seharga dengan mobil Ferrari Enzo di masa kita ini. Continue reading