Niqob = Jenius?

Niqob_Not_a_Symbol_of_Terorism_by_graphic_resistanceAlkisah, datanglah seorang wanita yang biasa-biasa saja. Bukan dari keturunan darah biru apalagi darah coklat, hanya keturunan darah merah. Bukan pula penemu sebuah alat yang mengubah dunia. Paling-paling hanya menemukan resep baru yang membuat suami dan anak-anaknya merasa bahwa di luar ada badai Katrina dan saudara-saudara perempuannya sehingga mereka tidak usah pergi keluar dan tetap di rumah sambil menikmati masakan wanita ini. Ya, biasa saja. Artis juga bukan. Pernah sekali mengikuti “kontes lamaran” yaitu ketika para laki-laki bukan hidung belang dan laki-laki yang sangat jantan datang ke rumahnya atas nama ta’aruf. Tapi itu pun cuma dinilai oleh satu juri yaitu suaminya sendiri karena suaminya tidak berfikir panjang untuk tidak menikahi wanita itu setelah acara ta’aruf selesai. Tapi, setiap wanita ini keluar sejengkal saja dari rumah, dia bak seorang artis papan atas yang digandrungi anak-anak muda hingga anak-anak tua. Setiap langkahnya tidak pernah lepas dari mata sang penggandrungnya.  Ada apa?

Oh, ternyata alasannya sederhana. Bukan karena kecantikannya atau bentuk tubuhnya yang membuat para penggandrungnya klepek-klepek. Justru karena para penggandrungnya itu tidak pernah sekalipun melihat kecantikan ataupun bentuk tubuhnya! Ya, wanita ini istiqomah mengenakan jubah lebar serta cadar. Maka dari itu, pandangan penggandrungnya ini pun macam-macam. Tapi kebanyakannya memandang aneh dan ada juga yang sinis.

Cerita di atas hanya fiksi. Tapi, barangkali banyak kita temui kasus seperti ini. Seorang wanita yang berniqob atau bercadar dipandang dengan aneh, bahkan sering ditanya-tanyai oleh orang-orang lain. Apa alasanmu berpakaian seperti ini? mengapa? Memangnya nggak bisa ya pake jilbab biasa seperti jilbab-jilbab yang dipakai artis-artis di tipi2 itu ya? Dan sebagainya. Bahkan ada juga yang tidak bertanya, tapi langsung melukai hati wanita bercadar itu dengan berkata, “Wah, ada ninja!” atau “Wah ada istri teroris lewat!” dan sebagainya..

Di sini saya tidak ingin mengomentari masalah hukum cadar atau hukum berjilbab seperti artis tipi atau bagaimana memakai jilbab yang benar. Insya Allah pembaca akan temui banyak artikel yang menjelaskan itu. Tidak.  Saya di sini hanya ingin mengajak pembaca memikirkan suatu pendekatan yang akan saya buat tentang wanita yang bercadar itu.

Coba sekarang kita pikirkan tentang Einstein, si manusia jenius yang terkenal dengan foto melet[1] dan rambut putih yang nampak seperti tidak mandi setahun itu. Coba bayangkan, lalu kemudian pikirkan dengan wanita bercadar yang tidak akan pernah kita temui dengan pose melet dan rambut seperti si Einstein. Ternyata mereka punya persamaan! Apa itu?

Continue reading

Rangkuman Kajian Masjid Al Islam

Rangkuman Kajian Kitab Taarikhu Tasyri’ oleh ustadz Yahya

Ta’rif (definisi) fiqih.

تَعْرِيْفُ : -الجَامِعْ وَ المَانِعْ

Dalam membuat definisi, kita harus memenuhi 2 kaidah. Yaitu harus Jami’ dan Mani’. Jami’ maksudnya adalah menyeluruh, dan mani’ artinya terbebas dari pemborosan kata yang tidak mengandung makna. Intinya, definisi harus singkat padat jelas.

Definisi Fiqih :

تَعرِفُ الفِقْهِ : الفِقْهُ هُوَ الْعِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمَكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

Fiqih adalah ‘ilmu tentang hukum-hukum Syar’i yang bersifat ‘amaliyyah dan diambil/bersumber dari dalil-dalil yang rinci

الفِقهُ :
-العِلْمُ
-الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ
-العَمَلِيَّةِ
-المَكْتَسَبِ
-الأَدِلَّتُهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

Berdasarkan definisi di atas, maka fiqih mengandung 5 poin penting, yaitu :

–          Ilmu

–          Hukum-Hukum Syar’i

–          ‘Amaliyyah

–          Bersumber dari

–          Dalil-dalil tafshil

Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti

Tingkatan Ilmu (Tambahan) :

Pertama : “Al ‘Ilmu” yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti

Kedua : “Adh-Dhan” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran lebih besar daripada persentase kesalahan

Ketiga : “Asy-Syak” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran sama dengan persentase kesalahan

Keempat : “Al Wahm” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran sangat kecil dibanding kesalahan

Kelima : “Al Jahlul Basith” yaitu tidak mengetahui kebenaran sama sekali

Keenam : “Al jahlul murakkab” yaitu mengetahui sesuatu yang justru kebalikannya dari hakikakt sebenarnya sesuatu tersebut.

(Tambahan diambil dari Syarah ushul tsalatsah Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah)

القِسْمَانِ فِي دلِيْلٍ هُمَا دَلِيْلٌ قَطْعِيٌّ يَقِنِيٌّ وَ دَلِيْلٌ ظَنِّيٌّ

Sedangkan dalil terbagi dua, yaitu dalil yang qath’I (jelas) dan meyakinkan, dan dalil yang sifatnya Dzonni (masih ada sedikit keraguan)

 

Rangkuman kajian kitab mulakhos al fiqihiyyah karya syaikh shalih fauzan oleh ustadz yahya

Cacat-cacat dan pengaruhnya dalam pernikahan

Berkata Ibnul Qayyim : Semua aib/cacat/ketidaksempurnaan yang menyebabkan salah satu atau keduanya (pasangan suami istri) tidak suka pada pasangannya atau menyebabkan keduanya menjauh, maka diperbolehkan khiyar

Khiyar maksudnya memilih apakah melanjutkan pernikahan atau memilih bercerai.

Misalnya cacat yang menyebabkan suami tidak bisa menunaikkan tugasnya sebagai suami. Atau cacat yang menyebabkan istri tidak suka pada suami. Begitu juga sebaliknya.

Contoh : Suami menderita penyakit impotensi atau mandul. Contoh lain seorang istri menderita penyakit daging tumbuh di kemaluannya, dan sebagainya. Dan cacat ini tidak bisa dihilangkan.

Namun, untuk menghindari adanya perasaan sepihak, maka lebih baik jika salah satu pihak menemui kecacatan pasangannya, maka lebih baik perkara ini dibawa ke hakim agar diselesaikan dan memuaskan kedua pihak.

Dampak bagi pernikahan

Jika pihak akhwat sengaja menyembunyikan cacatnya saat sebelum proses akad, lalu terjadilah akad sampai akhirnya pihak ikhwan atau akhwat itu mengetahui cacat pasangannya saat sebelum jima’, kemudian pihak ikhwan memilih untuk bercerai, maka pihak ikhwan tidak wajib memberikan maharnya.

Maka nasihat dari ustadz Yahya agar benar-benar memperhatikan aspek-aspek ini sebelum melaksanakan pernikahan, karena banyaknya ikhwan dan akhwat yang tidak memperhatikan aspek ini sebelum terjadinya pernikahan, maka akibatnya hal ini menjadi masalah di kemudian hari.

Pertanyaan (biru adalah jawaban ustadz Yahya)

1) Apa batasan Nadzhor?

Secukupnya saja dan jangan berlebihan. Yang penting bisa menimbulkan rasa suka

2) Bukankah jika wanita dicerai sebelum berjima’ maka laki-laki harus membayar setengah dari mahar? Dalilnya adalah surat Al Baqarah ayat 237

Ayat ini merupakan dalil umum, sedang yang tadi dibahas adalah jika si akhwat menyembunyikan cacatnya

 

Hikmah

sedikit hikmah yang bisa saya tangkap di sela waktu luang setelah olahraga

salah satunya, adalah tentang hikmah dari larangan nikah syighar (1), yaitu agar menghindari mendzhalimi pihak wanita karena mmaksa dia menikahi orang yang tidak dicintainya.. Masya Allah, sungguh islam telah menspesialkan kaum wanita dibandingkan dengan ajaran2 lain atau hukum2 buatan manusia.. Kalau kita membaca lebih jauh tentang bab ini, sesungguhnya terlihat bahwa Islam benar-benar menspesialkan kaum wanita, bahkan di dalam sebuah hadits disebutkan
“Apabila seorang istri shalat lima waktu (dengan tekun), berpuasa (Ramadhan) sebulan penuh (kecuali pada masa haid atau halangan lainnya yang syar’i), menjaga kehormatannya dan taat pada suaminya, maka dikatakan padanya : Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai (Shahih : Shahihul Jami’ no: 660 dan al-Fathur Rabbani XVI 228 no:250)

Lihat bagaimana dispesialkannya wanita ketika dia menjalankan syariat islam dengan benar.. Maka nasihat untuk para akhwat agar benar-benar memperhatikan dan mempelajari tentang syariat islam yang benar ini sehingga kalian akan menemukan bahwa islam  benar-benar memuliakan kalian..
(Sumber : Al Wajiz fi fiqhis sunnah wal kitabil ‘Aziz, Syaikh ‘abdul ‘Adzim bin Badawi al-Khalafi)

(1) Nikah Syighar adalah : 2 orang lelaki (A dan B) mengadakan perjanjian. B boleh menikahi anak atau saudara perempuan A dengan syarat si A boleh juga menikahi anak atau saudara perempuan B. Lengkapnya baca di Al-Wajiz

Wanita berpakaian, tapi Telanjang

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Continue reading