Tulisan tentang Tulisan

ImageKenalkah kau dengan Imam Al-Bukhari, atau imam Muslim rahimahumallah?  Penulis kitab hadits yang diakui keshahihannya?

Atau, kenalkah kau dengan Imam An-Nawawi? Pengarang hadits Arba’in?

Yang lainnya, bagaimana dengan Ibnu Katsir? Yang melahirkan kitab Tafsir Al Qur’an yang terkenal?

Bismillah..

Tulisan ini ada tulisan tentang sebuah nikmat Allah yang sering kita lupakan. Ya, sedemikian banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan, ada satu nikmat yang mungkin jarang dirasakan, akan tetapi besar manfaatnya. Nikmat Allah telah memberikan kemampuan manusia MENULIS..

Mungkin di antara kita ada yang belum sadar, kenapa saya menuliskan beberapa nama tokoh di atas secara berdampingan. Mereka semua terkenal karena TULISAN mereka..

Ketika kita menyebut nama Imam Bukhari, mau tidak mau pikiran kita tertuju pada kitab Shahihnya, yang nama kitab itu sebenarnya adalah Jaami’us Shahiih. Begitu pula Imam Muslim, Ibnu Katsir, Imam Nawawi, yang mereka ini dikenal lewat tulisan mereka.

Ya, tulisan mereka begitu kuat, sampai-sampai nama mereka tidak akan pernah lepas darinya.

Sekali lagi, Tulisan! Kalau seandainya Imam Bukhari tidak terfikir untuk membuat kitab Shahih itu, maka mungkin orang hanya mengenal beliau sebagai seorang yang cerdas dan jenius, namun tidak ada yang diperoleh dari hal itu. Umat tidak akan mendapat manfaat dari ilmunya.

Maka tulisan itu menjadi senjata mereka, senjata dalam berjihad menegakkan kalimat Allah yang tinggi, dengan karya-karya mereka yang fenomenal.

Akan tetapi, ibarat pedang bermata dua, tulisan bukan hanya mengabadikan kebaikan, dia juga mengabadikan sisi lainnya. Sejarah dan pemikiran hitler, musollini, mustafa kemal ataturk, dan lain-lain, akan selalu ada selama buku-buku yang bercerita tentang mereka masih ada.

Inilah sisi lain tulisan. Ketika kita menulis, maka kita akan menciptakan sebuah ‘keabadian’ selama tulisan kita masih eksis. Meskipun tulisan itu salah, dan penulis telah bertaubat dari kesalahannya, hal itu -kesalahannya- masih akan diikuti oleh semua orang yang membaca karyanya yang salah itu.

Sebagai contoh, sang pemuja Imam Ghazali rahimahullah akan terus menerus mengambil hadits-hadits dhoif dari kitab Ihya’nya, meskipun Imam Ghazali sendiri telah mengakui kelemahannya dalam bidang hadits. Kemudian, pengikut-pengikut ‘buta’ Abul Hasan Al-Asy’ari akan terus merunut tulisan-tulisannya meskipun beliau rahimahullah telah menyatakan pertaubatannya dalam kitab Al-Ibanah. Yang paling terakhir, para penghujat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah akan terus memakai referensi dari Sulaiman bin Abdul Wahhab rahimahullah walaupun yang bersangkutan telah bertaubat dari pencelaan-pencelaan yang dia lakukan..

Menulis memang mengukir suatu “keabadian”.. Ketika benar, tulisan itu menjadi pahala yang tak berhenti bagi penulis. Begitu juga ketika salah. Meskipun sang penulis telah bertaubat dengan menulis ‘bantahan’ terhadap tulisan sebelumnya, namun mencabut kesalahannya dari para pembacanya tidak semudah menekan tombol “backspace” di komputer..

Maka, terakhir, menulis memang mudah, namun ingatlah juga pertanggungjawaban dari tulisanmu itu. Sesungguhnya ukiran di atas batu akan membekas walau diterpa badai dan ombak..

Sumber gambar : bolpenanyam.blogspot.com

Advertisements

Aku Akan Kembali ke Pangkuanmu, wahai Ibu..

Aku akan kembali wahai ibunda … untuk mencium keningmu yang suci

Aku akan menumpahkan seluruh kerinduanku  dan aku akan menghirup wanginya tangan kananmu

Aku akan menghamparkan pipiku di pasir yang ada di kedua kakimu jika bertemu denganmu ibunda

Aku akan membasahi tanah dengan air mataku… karena gembira bertemu denganmu ibunda

Betapa sering engkau terhalang dari tidur malam agar aku tidur dengan pulas menutup pelupuk mataku

Betapa sering lehermu kering kehausan untuk bisa menghilangkan dahagaku dengan kelembutan dan kasih sayangmu

Dan pada hari tatkala aku sakit.. tidak akan aku lupakan air matamu yang mengalir seperti derasnya hujan

Dan tidak akan aku lupakan matamu yang bergadang menahan ngantuk karena mengkhawatirkan aku

Hari itu dimana kita berpisah di pagi hari… sungguh itu adalah pagi yang sangat menyedihkan bagiku

Kata-kata tidak mampu mengungkapkan kesedihanmu akibat kepergianku

Dan engkau mengutarakan suatu perkataan kepadaku yang selalu ingat sepanjang kehidupanku :

“Tidak mungkin engkau akan mendapatkan dada yang lebih lembut dan sayang kepadamu daripada dadaku”

Allah pemilik alam semesta ini telah berwasiat kepadaku untuk berbakti kepadamu hingga akhir hayatku

Keridhoanmu merupakan kuci kesuksesanku… dan mencintaimu adalah cahaya keimananku

Dengan ketulusan doamu maka sirnalah kesulitan dan kesedihanku

Kecintaanku tulus kepadamu tidak akan terbagi kepada seorangpun

Ibunda engkau menyertai gerakan hatiku… dan engkau adalah cahaya pandanganku

Ibunda engkau adalah senandung yang menyertai lisanku… dengan memandangku maka hilanglah kegelisahanku

Aku akan kembali kepadamu wahai ibunda esok… dan aku akan beristirahat dari perjalanan jauhku

Maka aku akan memulai lembaran baru bersamamu ibunda… dan ranting-rantingpun akan terhias dengan bunga

 

Dikutip dari firanda.com

Wanita berpakaian, tapi Telanjang

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Continue reading

Untuk Akhwat Muslimah

Wahai akhwat yang semoga Allah meridhoimu..

Sesungguhnya manusia diciptakan saling berpasangan. Maka salah satu fitrah manusia yang normal adalah menyukai lawan jenisnya. Namun, tahukah antum?

Bagaimana jadinya jika fitrah itu ditempatkan di tempat yang tidak seharusnya?

Bayangkan antum makan dengan menggunakan kaki.. apa yang akan terjadi?

Sungguh jika fitrah telah ternoda, maka hati yang sehat akan merasakannya..

Wahai akhwat muslimah..

Sesungguhnya antum adalah perhiasan terindah dunia ini.. Ingatlah sabda Rasulullah,”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” [1]

Namun, ingat juga wahai akhwat, sesungguhnya antum juga sebuah fitnah besar yang telah turun di dunia ini.. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

مَاْ تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَتً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita”[2]

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“karena sesungguhnya fitnah pertama (yang menghancurkan) Bani Israil adalah dalam masalah wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Wahai akhwat, semoga Allah memuliakanmu.

Sesungguhnya diri ini teringat akan ucapan seorang syaikh, ketika ada yang bertanya, “Kenapa dalam islam kita tidak boleh menyentuh wanita?” Maka jawab syaikh itu, “Tahukah kau ratu Elizabeth? Bisakah kau menyentuhnya?” Jawab pemuda itu, “ tentu tidak bisa, karena dia ratu dan dijaga sangat ketat”. “Nah, seperti itulah islam. Kedudukan wanita di dalam islam seolah ratu Elizabeth di negerimu”

Wahai akhwat, yang semoga Allah merahmatimu..

Continue reading