Perjalanan Penuntut ilmu

Keterangan Gambar :
-Kitab pertama yang harus dihafal adalah al Qur’an
-Yang berhuruf merah itu yang urgent.
-Bahasa arab ditebali karena rata-rata kitab itu berbahasa arab, jadi sebaiknya kita belajar bahasa arab dahulu
-Penulis kitab sengaja tidak ditulis karena akan memperpanjang tulisan. Namun pembaca boleh bertanya jika ingin mengetahuinya
-Kitab-kitab yang tertulis di sana hanyalah rangkuman dari beberapa sumber. Selebihnya sebenarnya masih banyak kitab penting yang tidak tertulis demi menghemat space

Akhirnya, inilah kitab-kitab yang direkomendasikan oleh para ulama’ untuk seorang penuntut ilmu..

Mungkin ada yang berkata, banyak sekali, bagaimana kita bisa mempelajarinya?

Yang jadi renungan adalah, bahwa kita dalam ilmu dunia begitu bersemangat, kenapa tidak untuk ilmu akhirat??

Tentunya bagi kita mungkin sebagian merasa mustahil mampu mempelajari seluruh kitab itu..

Baiklah, paling tidak ambillah Al Qur’an dan kitab tentang Tauhid yang itu adalah masalah yang sangat penting, sudahkah kita mempelajarinya barang sedikit saja? Atau meluangkan waktu untuknya??

Dan poin pentingnya adalah, bahwa perjalanan keilmuan sangatlah panjang.. Bukan perkara mudah berbicara masalah agama. Maka kata-kata yang bagus untuk teman-teman penuntut ilmu dan penulis sendiri adalah, janganlah berhenti menuntut ilmu dan janganlah malas. Janganlah kita merasa menjadi ulama’ hanya karena bisa menukil satu dua hadits, atau karena sudah menghafal Qur’an.. sesungguhnya jalan itu sangat panjang dan jauh..

Dan ini ada sedikit tips untuk penulis dan penuntut ilmu yang lain, yang saya nukilkan dari perkataan Syaikh Utsaimin rahimahullah di kitabnya “Kitabul ‘Ilmi”, yakni ringkasnya,

“Carilah guru untuk membantu proses belajarmu. Karena dengan belajar bersama ustadz/syaikh, maka akan lebih banyak faedah yang didapat dan akan lebih cepat dalam belajar daripada membaca sendiri”

Lantas, bagaimana cara mencari guru yang benar??
Alhamdulillah majelis ilmu telah bertebaran, dan sangat banyak majelis ilmu yang membahas kitab-kitab yang penulis tulis di atas.. Jika kebetulan berdomisili di bandung dan sedang kuliah di ITB, maka ada kajian-kajian ilmiyah yang membahas kitab-kitab yang penulis tulis.. (http://salafti.files.wordpress.com/2011/11/314520_2258087291370_1224007662_32072887_2001141018_n.jpg)

Jika tidak sempat, maka Alhamdulillah zaman telah canggih. Sekarang banyak sekali radio streaming di internet yang bisa didengarkan, semisal radio Rodja atau radio Hang FM, dan yang lainnya. Kita bisa mendengar penjelasan-penjelasan dari ustadz dan juga terkadang masyaikh dari sana. Jika tidak sempat mendengar di radio, maka kita bisa download kajian-kajian yang telah disampaikan melalui link berikut ( http://www.Kajian.net)

Jika masih tidak sempat lagi, maka tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita telah bosan mendapat rahmat dari Allah dan dimudahkan untuk ke surga? (lihat di sini http://ustadzmuslim.com/ilmu-dan-keutamaannya/)

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi penulis dan pembaca dan umat muslim sedunia untuk menuntut ilmu dan memberikan keistiqomahan berada di jalanNya..
Wallahu A’lam

Sumber :
-Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.2010.Panduan Lengkap menuntut ilmu(Kitabul ‘Ilmi). Bogor : Pustaka Ibnu Katsir.
-Abu Zaid, Bakr bin Abdullah. 1415 H.Hilyatut Thalibil ‘Ilmi. Riyadh : Daarul ‘Aashimah
-http://alashree.wordpress.com/2011/11/01/ngaji-vs-ngurus-fitnah

NB: Penulis mengajak pembaca agar sebelum memulai perjalanan menuntut ilmu agar membaca kitab-kitab seperti Kitabul ‘Ilmi yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, atau Hilyatu Thaalibil ‘Ilmi oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid. Semoga dimudahkan.

Rangkuman Kajian Masjid Al Islam

Rangkuman Kajian Kitab Taarikhu Tasyri’ oleh ustadz Yahya

Ta’rif (definisi) fiqih.

تَعْرِيْفُ : -الجَامِعْ وَ المَانِعْ

Dalam membuat definisi, kita harus memenuhi 2 kaidah. Yaitu harus Jami’ dan Mani’. Jami’ maksudnya adalah menyeluruh, dan mani’ artinya terbebas dari pemborosan kata yang tidak mengandung makna. Intinya, definisi harus singkat padat jelas.

Definisi Fiqih :

تَعرِفُ الفِقْهِ : الفِقْهُ هُوَ الْعِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمَكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

Fiqih adalah ‘ilmu tentang hukum-hukum Syar’i yang bersifat ‘amaliyyah dan diambil/bersumber dari dalil-dalil yang rinci

الفِقهُ :
-العِلْمُ
-الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ
-العَمَلِيَّةِ
-المَكْتَسَبِ
-الأَدِلَّتُهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

Berdasarkan definisi di atas, maka fiqih mengandung 5 poin penting, yaitu :

-          Ilmu

-          Hukum-Hukum Syar’i

-          ‘Amaliyyah

-          Bersumber dari

-          Dalil-dalil tafshil

Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti

Tingkatan Ilmu (Tambahan) :

Pertama : “Al ‘Ilmu” yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti

Kedua : “Adh-Dhan” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran lebih besar daripada persentase kesalahan

Ketiga : “Asy-Syak” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran sama dengan persentase kesalahan

Keempat : “Al Wahm” yaitu mengetahui sesuatu dengan persentase kebenaran sangat kecil dibanding kesalahan

Kelima : “Al Jahlul Basith” yaitu tidak mengetahui kebenaran sama sekali

Keenam : “Al jahlul murakkab” yaitu mengetahui sesuatu yang justru kebalikannya dari hakikakt sebenarnya sesuatu tersebut.

(Tambahan diambil dari Syarah ushul tsalatsah Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah)

القِسْمَانِ فِي دلِيْلٍ هُمَا دَلِيْلٌ قَطْعِيٌّ يَقِنِيٌّ وَ دَلِيْلٌ ظَنِّيٌّ

Sedangkan dalil terbagi dua, yaitu dalil yang qath’I (jelas) dan meyakinkan, dan dalil yang sifatnya Dzonni (masih ada sedikit keraguan)

 

Rangkuman kajian kitab mulakhos al fiqihiyyah karya syaikh shalih fauzan oleh ustadz yahya

 Cacat-cacat dan pengaruhnya dalam pernikahan

Berkata Ibnul Qayyim : Semua aib/cacat/ketidaksempurnaan yang menyebabkan salah satu atau keduanya (pasangan suami istri) tidak suka pada pasangannya atau menyebabkan keduanya menjauh, maka diperbolehkan khiyar

Khiyar maksudnya memilih apakah melanjutkan pernikahan atau memilih bercerai.

Misalnya cacat yang menyebabkan suami tidak bisa menunaikkan tugasnya sebagai suami. Atau cacat yang menyebabkan istri tidak suka pada suami. Begitu juga sebaliknya.

Contoh : Suami menderita penyakit impotensi atau mandul. Contoh lain seorang istri menderita penyakit daging tumbuh di kemaluannya, dan sebagainya. Dan cacat ini tidak bisa dihilangkan.

Namun, untuk menghindari adanya perasaan sepihak, maka lebih baik jika salah satu pihak menemui kecacatan pasangannya, maka lebih baik perkara ini dibawa ke hakim agar diselesaikan dan memuaskan kedua pihak.

Dampak bagi pernikahan

Jika pihak akhwat sengaja menyembunyikan cacatnya saat sebelum proses akad, lalu terjadilah akad sampai akhirnya pihak ikhwan atau akhwat itu mengetahui cacat pasangannya saat sebelum jima’, kemudian pihak ikhwan memilih untuk bercerai, maka pihak ikhwan tidak wajib memberikan maharnya.

Maka nasihat dari ustadz Yahya agar benar-benar memperhatikan aspek-aspek ini sebelum melaksanakan pernikahan, karena banyaknya ikhwan dan akhwat yang tidak memperhatikan aspek ini sebelum terjadinya pernikahan, maka akibatnya hal ini menjadi masalah di kemudian hari.

Pertanyaan (biru adalah jawaban ustadz Yahya)

1) Apa batasan Nadzhor?

Secukupnya saja dan jangan berlebihan. Yang penting bisa menimbulkan rasa suka

2) Bukankah jika wanita dicerai sebelum berjima’ maka laki-laki harus membayar setengah dari mahar? Dalilnya adalah surat Al Baqarah ayat 237

Ayat ini merupakan dalil umum, sedang yang tadi dibahas adalah jika si akhwat menyembunyikan cacatnya

 

Hikmah

sedikit hikmah yang bisa saya tangkap di sela waktu luang setelah olahraga

salah satunya, adalah tentang hikmah dari larangan nikah syighar (1), yaitu agar menghindari mendzhalimi pihak wanita karena mmaksa dia menikahi orang yang tidak dicintainya.. Masya Allah, sungguh islam telah menspesialkan kaum wanita dibandingkan dengan ajaran2 lain atau hukum2 buatan manusia.. Kalau kita membaca lebih jauh tentang bab ini, sesungguhnya terlihat bahwa Islam benar-benar menspesialkan kaum wanita, bahkan di dalam sebuah hadits disebutkan
“Apabila seorang istri shalat lima waktu (dengan tekun), berpuasa (Ramadhan) sebulan penuh (kecuali pada masa haid atau halangan lainnya yang syar’i), menjaga kehormatannya dan taat pada suaminya, maka dikatakan padanya : Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai (Shahih : Shahihul Jami’ no: 660 dan al-Fathur Rabbani XVI 228 no:250)

Lihat bagaimana dispesialkannya wanita ketika dia menjalankan syariat islam dengan benar.. Maka nasihat untuk para akhwat agar benar-benar memperhatikan dan mempelajari tentang syariat islam yang benar ini sehingga kalian akan menemukan bahwa islam  benar-benar memuliakan kalian..
(Sumber : Al Wajiz fi fiqhis sunnah wal kitabil ‘Aziz, Syaikh ‘abdul ‘Adzim bin Badawi al-Khalafi)

(1) Nikah Syighar adalah : 2 orang lelaki (A dan B) mengadakan perjanjian. B boleh menikahi anak atau saudara perempuan A dengan syarat si A boleh juga menikahi anak atau saudara perempuan B. Lengkapnya baca di Al-Wajiz

Aku Akan Kembali ke Pangkuanmu, wahai Ibu..

Aku akan kembali wahai ibunda … untuk mencium keningmu yang suci

Aku akan menumpahkan seluruh kerinduanku  dan aku akan menghirup wanginya tangan kananmu

Aku akan menghamparkan pipiku di pasir yang ada di kedua kakimu jika bertemu denganmu ibunda

Aku akan membasahi tanah dengan air mataku… karena gembira bertemu denganmu ibunda

Betapa sering engkau terhalang dari tidur malam agar aku tidur dengan pulas menutup pelupuk mataku

Betapa sering lehermu kering kehausan untuk bisa menghilangkan dahagaku dengan kelembutan dan kasih sayangmu

Dan pada hari tatkala aku sakit.. tidak akan aku lupakan air matamu yang mengalir seperti derasnya hujan

Dan tidak akan aku lupakan matamu yang bergadang menahan ngantuk karena mengkhawatirkan aku

Hari itu dimana kita berpisah di pagi hari… sungguh itu adalah pagi yang sangat menyedihkan bagiku

Kata-kata tidak mampu mengungkapkan kesedihanmu akibat kepergianku

Dan engkau mengutarakan suatu perkataan kepadaku yang selalu ingat sepanjang kehidupanku :

“Tidak mungkin engkau akan mendapatkan dada yang lebih lembut dan sayang kepadamu daripada dadaku”

Allah pemilik alam semesta ini telah berwasiat kepadaku untuk berbakti kepadamu hingga akhir hayatku

Keridhoanmu merupakan kuci kesuksesanku… dan mencintaimu adalah cahaya keimananku

Dengan ketulusan doamu maka sirnalah kesulitan dan kesedihanku

Kecintaanku tulus kepadamu tidak akan terbagi kepada seorangpun

Ibunda engkau menyertai gerakan hatiku… dan engkau adalah cahaya pandanganku

Ibunda engkau adalah senandung yang menyertai lisanku… dengan memandangku maka hilanglah kegelisahanku

Aku akan kembali kepadamu wahai ibunda esok… dan aku akan beristirahat dari perjalanan jauhku

Maka aku akan memulai lembaran baru bersamamu ibunda… dan ranting-rantingpun akan terhias dengan bunga

 

Dikutip dari firanda.com

Wanita berpakaian, tapi Telanjang

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’ An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Continue reading

Keutamaan bulan Dzulhijjah

Tahukah teman?

Bulan apa sekarang?

Mungkin ada teman-teman yang merasa sekarang hanyalah bulan oktober yang akan berganti november. Tidak ada tanggal merah, atau even2 lain yang menunuggu. Namun, ternyata, 2 hari lagi kita akan menghadapi bulan yang luar biasa, yang juga memiliki keutamaan-keutamaan sebagaimana bulan ramadhan yang baru saja kita lewati. Bulan apakah itu??

Jawabannya, bulan dzulhijjah!

Apa yang ada di bayangan teman2 jika mendengar bulan dzulhijjah?

Mungkin ada yang menjawab, haji, arafah, daging (rezeki bagi anak2 kos2an yang jarang makan daging, hehe), dan lain-lain. Yah, itu semua benar. Namun, ternyata, ada lagi sesuatu yang utama di bulan ini. Maka dari itu, penulis bermaksud menjabarkan beberapa keutamaan di bulan dzulhijjah ini. Di antaranya, Continue reading

Apa itu ilmu?

اِنَّ الْحَمْدَلِلّٰهِ،نَحْمَدُهُ،وَنَسْتَعِنُهُ، وَ نَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَ، وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا. مَنْ يَهدِهِ اللَّهُ فَلَامُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.وَ

اَشْهَدُ اَنْ لَاْ اِلٰهَ اِلّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً ا عَبْدُهُ وَ رَسُوْ لُهُ

Seputar ilmu..

فَعْلَمْ اَنَّهُ لَاْ اِلٰهَ اِلَّااللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah! Sesungguhnya tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”

(Q.S. muhammad 19)

Teman-teman semuanya pasti pernah membaca al qur’an bukan? Tentunya bagi yang sudah pernah khatam pasti melewati ayat ini. Nah, mungkin bagi kita biasa saja ketika membaca ayat ini. Namun, ternyata, dalam ayat itu menunjukkan sebuah kaidah besar yang ternyata mendasari tegaknya agama islam yang kita cintai ini.

Lantas ada yang bertanya, lo, bagaimana bisa? Bukankah tegaknya islam ini karena kalimat laa ilaaha illallah? Nah, sekarang coba perhatikan dahulu ayat yang tadi disebutkan oleh penulis.

Coba lihat, ayat ini didahului oleh kata fa’lam, yang artinya, “Maka ketahuilah”. Lalu, setelah itu, baru menyebutkan “Annahu” dst. Maka, kata fa’lam ini didahulukan sebelum menyebut kata laa ilaaha illallah. maka, dari ayat ini, para ulama’ mengambil sebuah kaidah besar, yaitu “Ilmu sebelum perbuatan dan perkataan.”

Nah, tentu teman-teman tahu kan siapa itu Imam Bukhari? Beliau yang menulis kitab yang tentunya semua umat muslim sudah mengenalnya, bahkan diakui sebagai kitab tershahih kedua setelah al qur’an, yaitu kitab Shahih Bukhari. Nah, imam Bukhari memberi judul “Bab ilmu sebelum amal” pada kitabnya, dan berdalil dengan ayat ini (Q.S Muhammad 19)

Nah, berarti, teman-teman sudah mengerti kan, betapa pentingnya ilmu itu? Bahkan ketika kita bersyahadat pun, kita harus mengetahui apa makna syahadat itu beserta konsekuensinya, agar kita bisa mengamalkannya.

Namun, sekarang ada pertanyaan lagi, ilmu yang dimaksud itu apa sih? Apakah yang dimaksud adalah ilmu dunia semisal fisika, kimia, biologi, sosiologi, ekonomi, geografi, atau yang lain?

Jawabannya, marilah kita perhatikan dalil-dalil berikut ini.

اِنَّمَا يَخْشى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰئُوا

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah ulama” (fathiir 28) Continue reading

Untuk Akhwat Muslimah

Wahai akhwat yang semoga Allah meridhoimu..

Sesungguhnya manusia diciptakan saling berpasangan. Maka salah satu fitrah manusia yang normal adalah menyukai lawan jenisnya. Namun, tahukah antum?

Bagaimana jadinya jika fitrah itu ditempatkan di tempat yang tidak seharusnya?

Bayangkan antum makan dengan menggunakan kaki.. apa yang akan terjadi?

Sungguh jika fitrah telah ternoda, maka hati yang sehat akan merasakannya..

Wahai akhwat muslimah..

Sesungguhnya antum adalah perhiasan terindah dunia ini.. Ingatlah sabda Rasulullah,”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” [1]

Namun, ingat juga wahai akhwat, sesungguhnya antum juga sebuah fitnah besar yang telah turun di dunia ini.. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

مَاْ تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَتً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita”[2]

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“karena sesungguhnya fitnah pertama (yang menghancurkan) Bani Israil adalah dalam masalah wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Wahai akhwat, semoga Allah memuliakanmu.

Sesungguhnya diri ini teringat akan ucapan seorang syaikh, ketika ada yang bertanya, “Kenapa dalam islam kita tidak boleh menyentuh wanita?” Maka jawab syaikh itu, “Tahukah kau ratu Elizabeth? Bisakah kau menyentuhnya?” Jawab pemuda itu, “ tentu tidak bisa, karena dia ratu dan dijaga sangat ketat”. “Nah, seperti itulah islam. Kedudukan wanita di dalam islam seolah ratu Elizabeth di negerimu”

Wahai akhwat, yang semoga Allah merahmatimu..

Continue reading

Keteladanan Syaikh bin Baaz rahimahullah

Ada yang menuturkan bahwa dia suatu hari membaca al Qur’an di dekat Syeikh Ibnu Baz dan bacaannya keliru. Mendengar hal tersebut, beliau berkata, “Bukan demikian, perbaiki bacaan al Qur’anmu”. Lalu beliau sendiri yang mengoreksi bacaan orang tersebut. Setelah itu beliau berpesan, “Simakkan bacaan al Qur’anmu pada seorang guru al Qur’an sehingga engkau bisa memperbaiki bacaanmu. Jangan terus menerus seperti ini”.

Suatu hari Syeikh Ibnu Baz berkata kepada orang yang ada di dekatnya, “Apakah engkau rutin membaca al Qur’an dengan target tertentu setiap harinya?”. Orang tersebut berkata, “Aku tidak rutin membaca membaca al Qur’an. Kadang aku membaca dan sekali membaca langsung dengan kadar yang banyak”. Ibnu Baz berkata, “Jangan demikian. Rutinkan membaca al Qur’an. Bukankah jika dalam sehari engkau membaca sebanyak satu juz maka dalam sebulan engkau bisa mengkhatamkan al Qur’an?!. Tiap hari engkau harus punya target yang jelas. Jangan sekedar asal-asalan”.

Teladan dalam Kedermawanan

Kehidupan Syeikh Ibnu Baz itu penuh dengan keteladanan dalam kedermawanan. Inilah sifat menonjol yang ada pada diri beliau. Beliau adalah seorang yang dermawan sejak belia dan terus dermawan hingga beliau meninggal dunia. Continue reading

Ukhuwah

Ukhuwwah..

Sebuah kata yang bermaknakan indah..

Ikatan persaudaraan yang kuat..

Yang difirmankan oleh Allah Subhanallahu ta’ala dalam Ali Imron ayat 103

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..”

Maka sesungguhnya dalam ayat ini terdapat larangan untuk bercerai berai dari jalan Allah. Dan ayat ini pun semakna dengan hadits,

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715)”

Sungguh, wajib bagi seorang muslim untuk selalu menjaga ukhuwahnya di antara sesama muslim berdasarkan ayat ini. dan bahkan mencintai sesama muslim itu salah satu penyebab sempurnanya iman, seperti dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya” (H.R. Bukhari)

Namun, yang menjadi masalah sekarang, bagaimana sesungguhnya Ukhuwah itu? Karena begitu banyaknya penafsiran yang ada di masyarakat saat ini, sehingga banyak yang bingung dengan definisi ukhuwah yang sesungguhnya.

Maka di sini saya akan menukil beberapa tafsiran yang berkembang di masyarakat dan sekaligus ringkasan pembahasan mengenai tafsiran tersebut. Continue reading